Sebelumnya saya minta maaf karena kelanjutan dari Posting sebelumnya,A Trip to Bali,Third Day agak terhambat berhubung si empunya blog (Made Good) sudah masuk sekolah setelah menulis posting A Trip to Bali,Third Day.Lalu,makin terhambat karena beberapa minggu setelah masuk adalah UTS.jadi saya Berjuang dulu untuk menuntut ilmu dan menghadapi UTS.Sehingga saya tidak sempat buka blog sendiri.belum lagi faktor penghalang lainnya.seperti koneksi butut,modem ngadat,dan faktor kemalasan penulis.ya sudah mari kita masuk ke cerita dan selesaikan ini semua

Fourth Day in Bali
Hari keempat di Bali,semakin mendekati waktu pulang kembali ke Bandung.Kali ini,kemana saya dan keluarga akan pergi?Kami akan pergi menuju Desa si bapak(bukan punya bapak saya).Desa dimana dahulu kakek saya tinggal.Dimanakah Desanya? di Banyuatis.

Gambar peta

Gambar 1.letak desa Banyuatis(yang terpencil nggak ada jalannya(di peta)

Banyuatis itu ada dimana? ada di pulau Bali,tepatnya di Selatan Singaraja.Tujuan ke sana ngapain? Begini,sebagai umat Hindu kami memiliki sanggah pamerajan (Sanggah Pamerajan berasal dari kata : Sanggah, artinya Sanggar, = tempat suci; Pamerajan berasal dari Praja = keluarga. Jadi Sanggah Pamerajan artinya = tempat suci bagi suatu keluarga tertentu.) nah,rencananya kami ingin bersembahyang disana. Kenapa Harus Disana?begini,berhubung anak-anak bapak saya belum pernah bersembahyang di Sanggah Pamerajan keluarga,jadilah kami pergi kesana.lalu menurut nenek saya,disanalah tempat leluhur-leluhur keluarga kami bersemayam.jadi,kalau kita bersembahyang di Sanggah Pamerajan,kita juga bersembahyang untuk leluhur kita.dan konon,kata nenek saya kalau bersembahyang di Sanggah Pamerajan untuk leluhur,kita akan berada dalam lindungan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan makin disayang oleh leluhur kita yang merupakan jelmaan diri kita di masa lampau/di kehidupan sebelumnya.Lebih Lanjut tentang Sanggah Pamerajan bisa dilihat dengan meng-klik Hyperlinknya dan satu lagi tentang Sanggah Pamerajan yang saya tuliskan tidak mengandung SARA ok? Anggap saja Informasi lebih tentang agama Hindu dalam pandangan saya.

Kembali ke cerita,Selain Sembahyang di Sanggah,ngapain lagi?oh iya menjenguk dadong(nenek Buyut) yang usianya sudah lebih dari 100 tahun.Dadong,atau nenek dari bapak saya terakhir kali saya jenguk waktu kelas 3 SMP,waktu ada odalan di desa.bagaimana keadaan dadong? ikuti saja dulu ceritanya.terus,ngapain sih ke Banyuatis yang terpencil begitu,tidak dikenal banyak orang,dan jaraknya jauh?begini,Berhubung ayah saya kepala keluarga,saya dan yang lain sebagai anggota keluarga mengikuti keeputusan bapak.lagipula,sebagai orang Bali yang lagi pulang ke Bali,Kurang pol kalau belum pulang ke Desanya.apalagi,kalau pulang ke desa asal itu konon katanya membawa rejeki bagi yang dikunjungi dan yang berkunjung.seperti apa?nanti saya ceritakan,ikuti dulu saja ceritanya.

lagipula,sebagai orang Bali yang lagi pulang ke Bali,Kurang pol kalau belum pulang ke Desanya.

kalau pulang ke desa asal itu konon katanya membawa rejeki bagi yang dikunjungi dan yang berkunjung

oke ah lanjut kita mulai cerita dari awal perjalanan.Kami sekeluarga berangkat dari rumah saudara di Jalan Badak(masih ingat kan?kalau nggak tahu baca saja older post tentang A Trip to Bali,First and Second Day) sekitar pukul 8 pagi waktu setempat. dengan menggunakan mobil Avanza sewaan dan supir sewaan pula.Perjalanan memakan waktu kira-kira 4 jam.Ketika sudah keluar dari Denpasar,kami mulai masuk ke daerah Tabanan.

Gambar peta

Gambar 2. Peta Tabanan

How’s Tabanan? Tabanan merupakan salah satu lumbung padi di pulau Bali.si pak supir bilang Tabanan itu tanahnya Subur,makanya dijadikan sebagai daerah pertanian.lalu jalanan di Tabanan amat mulus semulus kulit bayi,tidak ada jalan rusak sejauh mata memandang.Kalau melihat Sawah-sawah di Tabanan,saya kadang punya pikiran ingin jadi petani.berhubung pemandangannya indah,saya abadikan gambar-gambarnya mumpung belum keluar dari Tabanan.berikut gambar-gambarnya..
DSC_0147 
Gambar 3. Hamparan sawah di Tabanan
DSC_0145
Gambar 4.Sawah di Tabanan
DSC_0149
Gambar 5.Tabanan
DSC_0150 
Gambar 6.
DSC_0151
Gambar 7.Jalanan di Tabanan yang mulus dan sistem Irigasi di kiri Jalan
DSC_0152
Gambar 8. salah satu Pura di Tabanan

Selama Perjalanan,Saya sibuk dengan kamera saya dan sibuk menikmati Hamparan Sawah yang luas,mulusnya jalanan di Tabanan,jalanan yang sepi dan bebas pengemudi tak tahu aturan,Udaranya yang tidak sepanas Denpasar,dan menikmati sebuah Feel yang didapat karena merasakan indahnya,alaminya,segarnya,bebas polusinya daerah ini.ada lagi beberapa gambar yang saya tangkap.check it out.
DSC_0153 
Gambar 9. mulusnya dan lancarnya jalanan di Daerah Tabanan
DSC_0155 
DSC_0156
Gambar 10 dan Gambar 11. Mulusnya Jalan,Rindangnya pepohonan yang menghiasi jalan dan ujung sawah.
 DSC_0157
Gambar 12. Sistem Terasering pada sawah di Tabanan

Selama perjalanan,saya tidak bosan-bosan mengagumi pemandangan sawah.padahal dulu waktu kecil(masih SD kelas 3) kalau di Bali saya tidak suka pergi jauh-jauh dari Denpasar,yang segala ada,yang tidak jauh dari pantai dan saudara.mungkin waktu kecil,saya kurang senang dengan desa,penangkapan nilai estettik saya kurang bagus.saya hanya suka pada objek tertentu.sekarang,berhubung saya punya kamera dan saya adalah fotografer jadi-jadian,saya harus mencoba hal baru,mencari objek baru,dan menerima sesuatu yang baru.jangan hanya senang dengan beberapa objek tertentu.pemikiran saya terbukti selama perjalanan saya menangkap banyak objek bagus karena saya mau menerima objek baru.

berhubung saya punya kamera dan saya adalah fotografer jadi-jadian,saya harus mencoba hal baru,mencari objek baru,dan menerima sesuatu yang baru.jangan hanya senang dengan beberapa objek tertentu.pemikiran saya terbukti selama perjalanan saya menangkap banyak objek bagus karena saya mau menerima objek baru.

Buktinya?gambar-gambar di atas merupakan buktinya dan menurut saya semuanya bagus.tapi mungkin beberapa orang bakal berkata biasa-biasa saja.tidak apa-apa,semua orang punya pendapat.kalau masih kurang bukti,ini hasil jepretan saya yang lain.
DSC_0165
Gambar 13. siswa SD di Tabanan pulang sekolah dengan berkelompok.
 
DSC_0164 
Gambar 14. dua siswa SD di Tabanan pulang berboncengan dengan sepeda.

Kedua gambar di atas merupakan tangkapan spesial yang menurut saya unik.kenapa?kalau di Kota besar,contohnya Bandung.Adik saya yang masih duduk di bangku kelas 5 SD dan beberapa temannya pulang dijemput supir,ada yang dijemput naik motor,pulang naik Angkot,dan jemputan sekolah.kalau disana(tabanan) anak-anak SD pulang jalan kaki dengan berkelompok,ada yang naik sepeda berboncengan.perbedaan itulah yang membuat saya berpendapat bahwa hal itu unik.

kembali ke cerita.Kami Sampai di Bedugul,dimana udara menjadi sejuk dan agak dingin.Lalu,berdasarkan pengalaman,kalau sudah sampai bedugul tandanya sudah dekat dengan banyuatis.walau sebetulnya perjalanan masih agak jauh.

Gambar peta

Gambar 15. Peta bedugul

tadinya kami sekeluarga ingin main dulu ke danau Bedugul.tapi,berhubung sudah pernah,jadi kami berhenti saja untuk mengisi perut di restoran ayam Taliwang.

Jalanan mulai menanjak,berlika-liku,ketinggian di atas permukaan laut bertambah,lalu hawa udara semakin dingin karena berada di dataran tinggi.sambil mengikuti jalur,kemudian ada pertigaan dimana merupakan pertemua dari jalur yang kami tempuh dan sebuah jalur.kami mengambil jalur tersebut dengan memutar balik.jalur tersebut merupakan salah satu checkpoint tanda sudah memasuki kawasan banyuatis.sambil mengikuti jalur,di sebelah kiri terdapat pemandangan danau Beratan dari atas bukit tempat jalan ini.seperti biasa saya mengabadikannya dengan kamera.Tadinya ingin berhenti dulu agar bisa leluasa.tetapi berhubung si mamah pengen cepet sampai terpaksa mengabadikannya dari dalam mobil dengan ketangkasan ekstra karena mobil melaju dengan kencang dan Pemandangan banyak terhalang oleh semak.akhirnya,saya berhasil mengabadikan 2 gambar,not too bad.berikut kedua foto yang diperoleh.
DSC_0171
Gambar 16. Pemandangan Danau yang berhasil diabadikan
DSC_0173 
Gambar 17. Pemandangan Danau Beratan yang kedua

Walau cuma dapat dua,saya senang karena berhasil mendapatkan objek tersebut.jalanan mulai curam,hanya ada tanjakan dan turunan.saya sendiri sedikit mual.akhirnya sekitar 30 menit kemudian akhirnya sampai di desa kami.tempat bermulanya keluarga made lingga,Banyuatis.

Disana kami disambut oleh kerabatnya kakek yang juga merupakan paman dan bibi dari Bapak.yang pertama dicari adalah Bapak.setelah bertemu,kami diajak masuk ke dalam.di dalam rumah,terlihat Dadong sedang tidur di sebuah ranjang yang letaknya di ruang tamu.beliau sudah sangat tua.katanya tiap hari ia hanya berbaring di kasur.saya sendiri takjub melihat dadong kumpi-begitulah panggilannya bisa berumur panjang hingga lebih dari 100 tahun.
DSC_0175
Gambar 18. Dadong tidur di ranjangnya

Ketika beliau terbangun dari tidurnya,ia melihat cucunya dan cicitnya,saya dan adik-adik saya. dengan terbengong-bengong beliau bertanya pada bibinya bapak dengan bahasa Bali.berhubung saya sendiri tidak bisa berbahasa Bali dengan Fasih saya tidak ikut mengobrol.lalu saya juga tidak hafal persis bagaimana percakapannya,jadi saya buat seingatnya danpercakapannya saya buat dalam bahasa indonesia saja ya.

Dadong: ini siapa?
Bibi:Gede Yudha sama keluarganya
Dadong:Hah?Siapa?
Bibi:Gede Yudha(setengah berteriak)
Dadong:Gede Yudha?siapa itu?
Bapak:Gede Yudha,cucunya dadong(setengah berteriak juga)
Dadong:"Cucu?yang mana?”
Bapak:Anaknya Made Lingga,Anaknya Dadong.
Dadong:Made Lingga Siapa?
Bapak: Made Lingga Anaknya dadong,saya cucunya dadong.
(dadong terbengong-bengong)
Dadong:Gede Yudha?anaknya made Lingga?cucunya saya?
bapak:iya

DSC_0176
Gambar 19. Percakapan antara dadong dan bapak

Wajah dadong menjadi cerah setelah mengetahui bahwa beliau sedang dikunjungi oleh bapak.Dadong mengucapkan “Gede Yudha,Cucuku” berkali-kali.lalu Dadong melihat Ibu,aku dan Adik-adik saya.Beliau kembali bertanya mereka siapa.setelah dijelaskan bahwa kami adalah istri dan anak-anaknya bapak,wajahnya semakin cerah dan seperti biasa,terbengong-bengong.

Saya jadi sedih dan berpikir,”semakin tua,ingatan manusia itu semakin pudar ya.dadong saja sudah lupa siapa anaknya,siapa cucunya,apalagi cicitnya.saya sedih apakah nanti saya kalau sudah berumur 100 tahun-jangankan saya,nenek-nenek saya saja dulu,apakah mereka akan lupa dengan anak-anaknya?cucu-cucunya?cicit-cicitnya?apalagi nenek orang tua ibu saya yang memiliki 7 anak belasan cucu,dan beberapa cicit.apakah nenek saya nanti jika diberi umur panjang hingga lebih dari 100 tahun(misalnya) akan seperti dadong kumpi?saya amat berharap tidak.”

menurut saya mungkin yang menyebabkan dadong kumpi hampir lupa akan segalanya kecuali apa yang ada di dekatnya adalah beliau jarang-jarang dikunjungi oleh cucu-cucunya beserta keluarga.jadinya kurang dekat dengan cucu-cucunya.

kalau nenek,orang tua dari Ibu kan sering dikunjungi oleh anak-anaknya,cucu-cucunya,cicit-cicitnya,menantu-menantunya pun masih bisa menyempatkan waktu untuk bertemu.jadi semoga nenek yang merupakan ibu dari ibu saya selalu mengingat anggota keluarga besarnya,termasuk pekak(kakek) Subandi,Suaminya yang sudah meninggalkannya lebih awal.

Kembali ke cerita,dadong kumpi meski sudah lupaan,lupa  nama-nama anaknya,cucunya,bahkan cicitnya.tidak menganggap kami sekeluarga asing.karena pastinya masih keluarga yang memiliki hubungan darah dan emosional.

setelah itu,dadong tidur kembali dan saya beristirahat di kamar.
setelah beristirahat,sesuai tujuan kami akan bersembahyang di sanggah keluarga.saya berdoa pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa,berterima kasih atas segala yang telah diberikan.setelah bersembahyang,jujur saya merasa tenang,setelah bersembahyang.berharap akan selalu berada dibawah lindungan Tuhan dan semakin disayang leluhur(ngarep).setelah itu saya Tidur Siang.bangun sekitar jam 2,kami kembali  pulang ke Denpasar.menempuh rute yang sama dan waktu yang sama.

Thanks God,You take me to my hometown and return me to the town safely.